Selasa, 07 April 2009

REFERENSI KOMUNIKASI

Globalisasi Budaya
(Budi Hartanto -Iklan 06)

Pendahuluan
Budaya sebagai salah satu instrumen manusia beradaptasi dengan lingkungannya tanpa disadari akan selalu berkembang berbanding lurus dengan perkembangan lingkungannya tersebut. Nilai-nilai yang ada pun banyak yang mengalami pergeseran hingga akhirnya menjadi sesuatu yang dimaklumi dan diterima oleh masyarakat luas sebagai bentuk perubahan zaman.
Sebagai contoh paling sederhana dengan kehidupan kita sehari-hari, misalkan celana jeans yang kita pakai saat ini. Awalnya jeans diciptakan bagi para penambang emas di Amerika Serikat pada abad 18-an oleh Levi Strauss, karena sifat bahannya yang diyakini kuat dan tangguh namun tetap nyaman bagi ergonomis gerak manusia, tidak harus selalu dicuci, dan segala macam kelebihannya yang membuat hidup dianggap bisa menjadi lebih praktis dan efisien. Selanjutnya jeans mulai dipakai oleh para koboi dalam menunggang kuda hingga perkembangannya pada saat ini jeans mendunia baik secara fungsional maupun sebagai tren. Bahkan di beberapa tempat, nilai kesan ketidakformalan yang terkandung pada jeans seolah dapat diterima.
Seperti yang pernah dibahas sebelumnya dalam mata kuliah Komunikasi Antar Budaya, salah satu yang mempengaruhi pergeseran nilai-nilai budaya adalah penetrasi budaya baru terhadap budaya lama sebagai salah satu akibat semakin luasnya mobilisasi interaksi manusia satu terhadap manusia lainnya. Luasnya mobilisasi interaksi yang kian meluas inilah yang kerap disebut sebagai fenomena globalisasi. Mengapa budaya memakai jeans yang semula hanya dipakai oleh para budak pertambangan, koboi di Amerika Serikat bisa akhirnya mendunia? Inilah yang akan coba dibahas dan fokus pada :
1) Apa itu Budaya?
2) Apa itu Globalisasi?
3) Apa itu proses Globalisasi Budaya?
4) Faktor-faktor apa saja yang mendorong proses Globalisasi Budaya?


Budaya dan Analisa Proses Budaya
Mencoba mereview kembali kepada bahasan di awal perkuliahan tentang definisi budaya beserta lingkupnya yang telah dipelajari, budaya menurut wikipedia kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata Culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia. Secara garis besar budaya dikenal sebagai segala bentuk persepsi pengetahuan manusia yang diterima secara luas. Sedangkan menurut Sedangkan para ahli, mengemukakan pendapatnya masing-masing mengenai budaya. Menurut Edward B. Taylor kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya mengandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sementara itu Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, menurut mereka kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Analisa proses berpikir menjadi sebuah budaya dijelaskan oleh Van Peursen sebagai berikut :

  1. Tahap Mitis
    Pada tahap ini manusia merasa terkepung oleh kekuatan-kekutan gaib, kekuasaan dewa-dewa dan alam raya. Hal tersebut akhirnya melahirkan mitos dan legenda sebagai bentuk kekaguman manusia terhadpa lingkungannya. Dalam kehidupan moderen pun hal-hal tersebut masih mewarnai kehdiupan manusia. Van Peursen mengatakan ciri yang paling membedakan tahap ini daripada tahap-tahap selanjutnya adalah pada tahap mitis ini proses berpikir manusia sangat dipengaruhi oleh hal-hal yang sifatnya irasional dalam memahami lingkungannya.
  2. Tahap Ontologis
    Pada tahap ini manusia mulai berpikir untuk meneliti segala sesuatunya secara rasional dan ‘ingin lepas’ dari kepungan kekuasaan mitis tersebut. Manusia mulai mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang dulu dianggap sebagai kepungan. Manusia mulai menyusun teori mengenai dasar dan hakekat dari segala sesuatu. Hasil dari berpikir tahap ini adalah sekarang yang kita kenal sebagai ilmu pengetahuan
  3. Tahap Fungsional
    Pada tahap ini manusia berpikir dalam lingkup kontemporer artinya berlaku sifat kekinian dan condong pada nilai guna (uses value). Manusia tidak lagi terpesona pada lingkungannya melainkan lebih kepada sikap perilaku memanfaatkan lingkungannya tersebut untuk kelangsungan hidupnya. Pada tahap inilah yang sangat berpengaruh pada era globalisasi (akan dibahas nanti), yakni ketika manusia berusaha mengambil nilai guna dari lingkungannya dengan interaksi yang semakin luas dan mendunia.
    Van Peursen tidak mengemukakan tahapan ini secara kronolgis, berarti suatu tahap bukan berarti lebih tinggi dari tahap yang lainnya, melainkan ketiga tahap itu saling melengkapi dan saling mendominasi satu sama lain.

Globalisasi
Globalisasi merupakan suatu keniscayaan ketika interaksi antar manusia semakin luas. Dalam memenuhi kebutuhan interaksinya yang ingin semakin meluas tersebut maka manusia melalui tahapan fungsional berusaha mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang ada pada dirinya. Globalisasi adalah salah satu akibat dari usaha manusia dalam mengatasi jarak fisik melalui teknologi. Menurut definisi globalisasi Jan Aart Scholte mengatakan globalisasi adalah, serangkaian proses dimana relasi sosial menjadi relatif terlepas dari wilayah geografis . Istilah distance is dead, atau jarak sudah mati kini rasanya telah menjadi kenyataan. Globalisasi memiliki ciri-ciri ‘terhapusnya’ batas-batas geografis, individu semakin terhubung dan akhirnya identitas pun tidak dapat berdiri dengan ajeg.
Menurut Mc Luhan globalisasi sebagai bentuk moderenisasi yang ditandai dengan kemenangan rasio manusia dalam mengatasi problem keterbatasan jarak fisik manusia. Saat Mc Luhan mengemukakan ide tersebut, saat itu masih belum terbayang arus informasi akan menjadi seperti ini. Ternyata usaha manusia dalam mengatasi keterbatasan jarak fisik tersebut telah diwujudkan dengan pesatnya teknologi khususnya teknologi komunikasi. Evolusi bentuk media komunikasi ternyata berhasil memghubungan manusia satu dengan manusia lainnya sebagai usaha memperluas interaksi. Diawali dari penemuan sederhana kawat telegraph oleh Thomas Alfa Edison, telepon oleh Alexander Graham Bell, pesawat radio oleh Marconi hingga menjelang tahun 1995 tanpa terasa sudah 30 juta orang yang berasal lebih dari seratus negara telah terkoneksi dengan internet . Kemajuan teknologi ini yang mengamini istilah distance is dead tadi. Maka tidak heran ketika konsep utopis Mc Luhan tentang global village pada tahun 1960an kini seolah terwujud dan menyebabkan konsep tersebut kini mulai digali lagi khususnya berkenaan dengan pendekatan media. Namun dalam bahasan pendekatan budaya konsep Mc Luhan ini juga bisa menjadi acuan. Globalisasi dalam konsep Mc Luhan dikatakan juga adalah semakin semunya heterogenitas dan pola perubahan yang terjadi menuju homogenitas budaya.

Globalisasi Budaya
Globalisasi budaya jika merujuk definisi budaya adalah serangkaian proses dimana relasi akal dan budi manusia relatif terlepas dari wilayah geografis. Hal ini memunculkan jalinan situasi yang integratif antara akal dan budi manusia di suatu belahan bumi yang lain dengan yang lain. Sedangkan jika mengacu pada konsep Mc Luhan tentang global village, adalah sebuah proses homogenitas nilai-nilai baik secara sadar maupun tidak sadar terhadap kemajemukan (keheterogenitas) nilai-nilai yang ada di dunia akibat cairnya batas-batas geografis. Homogenitas seperti apa yang terjadi pada budaya di dunia ini? Para ahli-ahli dari kaum hiperglobalis mereka berpendapat tentang definisi globalisasi budaya adalah, …homogenization of the world under the auspices of American popular culture or Western consumerism in general . Ini berarti bahwa globalisasi budaya adalah proses homogenisasi dunia di bawah bantuan budaya popular Amerika atau paham konsumsi budaya barat pada umumnya.
Definisi hiperglobalis tersebut, jika bisa disamakan dengan keanekaragaman istilah globalisasi pada umumnya, yang salah satunya adalah Westernisasi. Dimana ada penyebaran kebudayaan Barat terutama kebudayaan Amerika. Namun, jika dilihat lebih lanjut, definisi dari paham hiperglobalis tidak bisa lepas daripada sifat-sifat yang cenderung mengandung pikiran ekonomi, atau berorientasi ekonomi.
Merunut dari orientasi ekonomi maka secara sederhana proses globalisasi budaya dapat dibuat skema sebagai berikut :


Fenomena homogenitas budaya tanpa disadari sudah mulai terasa pada masyarakat dalam berbagai bidang. Sehingga tidak tertutup kemungkinan bahwa nilai-nilai budaya yang sekarang kita terapkan akan berlaku universal dimana pun kita berada. Pada tahap ini budaya akhirnya bersifat fungsional, yakni ketika nilai-nilai yang diterapkan oleh manusia semata sebagai bentuk pemanfaatan nilai guna tanpa memikirkan lagi asal,usul budaya tersebut.
Globalisasi budaya juga memiliki dampak negatif, sesuai dengan konsep Mc Luhan yakni dengan munculnya homogenitas maka secara tidak langsung memicu hilangnya identitas salah satu budaya yang terdominasi budaya lain.

Faktor-faktor Penyebab Globalisasi Budaya
Sebenarnya secara tersirat faktor-faktor penyebab globalisasi budaya telah disebutkan di atas yakni perkembangan teknologi. Dalam sebuah situs , dikatakan sebagai faktor utama penyebab globalisasi budaya adalah pesatnya perkembangan teknologi informasi, khususnya pada awal abad ke-20. Sementara itu, situs lainnya yang membahas tentang global pop culture menyatakan sejumlah faktor penyebab terjadinya globalisasi budaya adalah sebagai berikut: causes included the development of new technologies and the economic globalization of capital, labor, natural resources, production, and consumption. Political factors also played a role, from imperialism and nationalism to totalitarian states and the Cold War; so to did social struggles over the construction of race, class, ethnicity, religion, and gender.
Ternyata, perkembangan teknologi tidak semata menjadi faktor utama, dalam hal ini globalisasi ekonomi juga ikut berperan, bahkan hingga kepada faktor-faktor politik. Hal ini juga menjelaskan mengapa globalisasi tidak terlepas dari politik, ekonomi, bahkan budaya, yang ditenggarai sebagai globalisasi ketiga.
Globalisasi Budaya yang dirasakan sebagai satu kesatuan paket dari globalisasi-globalisasi lainnya, dikatakan sebagai globalisasi ketiga. Diminique Wolton, Kepala Pusat Kajian Center of National Research Scientific (CNRS) Prancis, dalam kesempatannya ketika berkunjung ke Indonesia pada tanggal 13 Desember 2004 menyatakan , Dunia dewasa ini akan memasuki perkembangan baru globalisasi. Setelah globalisasi politik dan globalisasi ekonomi umat manusia memasuki globalisasi budaya. Globalisasi politik dimulai dengan terbentuknya PBB. Sedangkan globalisasi ekonomi dimulai sejak perdagangan bebas dalam kurun waktu antara tahun 70-an. Dari ketiga globalisasi tersebut, sektor budaya lah yang paling sulit dilakukan. Sedang yang paling mudah adalah globalisasi ekonomi…
Pernyataan Diminique mengenai sulitnya globalisasi budaya untuk dilakukan, tentunya belum mampu dipastikan sebagai berita baik bagi kalangan pendukung globalisasi. Hal ini tentunya akan menjadi pendorong yang tepat bagi kaum skeptis untuk terus menolak globalisasi, meskipun globalisasi tidak dapat dihentikan begitu saja, kabar baiknya globalisasi budaya terus saja berjalan hingga sekarang ini. Sehingga berhasil memunculkan suatu istilah global pop culture, sebagai suatu bukti adanya globalisasi budaya ditengah tentangan kaum skeptis.
Kehadiran global pop culture atau budaya populer global, secara sejarah tidak dapat terlepaskan dari perkembangan pembangunan pada abad ke-19 dan 20. Pada abad ke-19 pembangunan pada aspek media massa, khususnya surat kabar dan novel-novel menjadikan jarak yang terpisah antar suatu masyarakat di suatu belahan dunia terhadap belahan dunia lainnya untuk mengakses tren kultur, tidak terhambat oleh masalah tempat. Masuk kepada abad-20 penemuan radio, televisi, dan komputer menjadikannya fenomena dalam perluasan akses. Hasilnya, tren kultur popular pada suatu regional tertentu dengan mudah menyebar ke belahan dunia lainnya, dimana budaya itu bisa dimodifikasi oleh tradisi lokal dan bisa menjadi salah satu yang termasuk kultur popular lokal.


Kesimpulan
Globalisasi adalah suatu keniscayaan, artinya sebuah proses mekanisme alamiah sebagai buah perkembangan bentuk interaksi manusia yang semakin luas di seluruh dunia. Pada taraf globalisasi budaya, tahap fungsional lebih mendominasi pola pikir manusia terhadap nilai-nilai budaya. Globalisasi membuat dunia menjadi lebih homogen disebabkan meluasnya proses kesepakatan bersama dalam hal menegosiasikan pesan yang berimbas pada hilangnya identitas budaya yang terdominasi oleh budaya lain.
Faktor-faktor penyebab globalisasi utama adalah kemajuan teknologi, namun selain itu masih banyak juga faktor-faktor tidak langsung yang menyebabkan globalisasi terjadi.

Sumber :

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya
  2. Mc Luhan, Marshal ; Manusia dan Media dalam Refleksi Budaya, Lembaga Studi Filsafat, Jakarta 1992
  3. http://feelsafat.files.wordpress.com/2007/12/globalisasi-budaya-ditengah-masalah-identitas-nasional.pdf
  4. Teknologi dan Global Village, Dalam bahan kuliah Komunikasi Internasional FISIP UNAS
  5. David Held, Anthony Mcgrew, David Goldblatt dan Jonathan Peron, Global Transformations, Polity Press, Cambridge, 1999. p327.
  6. http://id.wikipedia.org/wiki/globalisasi
  7. http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/, Indonesia Perlu Siap Hadapi Globalisasi Ketiga, Senin, 12 Desember 2004, 14.22 WIB

Jumat, 06 Maret 2009

REFERENSI KOMUNIKASI (PERIKLANAN)

Membuat Tracing Vector dengan Free Hand MX (part II)
(Budi Hartanto - Iklan 06)
Setelah membuat vector dengan trace tool, maka bahasan ini adalah cara membuat vector dengan cara manual menggunakan path yang dibentuk dengan pen tool, cara ini lebih sulit dan membutuhkan ketelitian namun akan sebanding dengan hasil yang akan didapatkan, hasil tracing jauh lebih sempurna, detail dan rapi (bahkan tidak ada warna yang hilang/bolong seperti pada tracing dengan trace tool). Dengan cara manual ini background gambar tidak perlu dihilangkan melalui photoshop, karena kita akan langsung membuat path dari objek

  1. Buka Free Hand MX dan buat dokumen baru

  2. Import File yang akan dijiplak dengan cara pilih menu file > import.
  3. Setelah file yang akan dijiplak muncul, klik pen tool pada menu tools berupa simbol mata pena
  4. Mulai membuat titik2 batas area. Cara penggunaan pen tool di sini sama caranya dengan penggunaan pen tool di Photoshop (sudah diterangkan dalam bahasan menghilangkan background pada photoshop), yakni meletakkan titik2 pointer serta memainkan kurvanya. Intinya dalam menjiplak pixel menjadi vector adalah memberi batas pada setiap detail perbedaan warna yang ada pada file pixel. Semakin teliti dan detail batas2 warna yang dibuat, maka hasilnya pun akan semakin mirip. Hal ini diperlukan kejelian mata dalam setiap menangkap perbedaan warna yang ada, karena itu dalam berlatih membuat detail vector sebaiknya menggunakan file pixel yang beresolusi tinggi. Misalkan membuat detail perbedaan warna pada baju yang menghasilkan efek lipatan, atau perbedaan warna pada kulit wajah yang menghasilkan kontur wajah.

  5. jika dibuat secara detail maka akan tampak seperti ini


  6. Jika sudah maka hasilnya akan berupa kumpulan path yang terlihat kompleks namun itulah sebenarnya batas2 area perbedaan warna yang anntinya akan diisi dengan warna berupa vector

  7. setelah jadi, saatnya memberi warna. Untuk memunculkan campuran warna pilih menu Window > Color Mixer

  8. Color mixer berfungsi seperti kumpulan cat warna dasar yang dapat diramu sesuka hati, ada 4 model pilihan warna mulai dari warna RGB, CMYK, HLS, Color Picker. Karena saya terbiasa membuat grafis untuk media cetak maka mode warna yang saya pilih adalah CMYK.

  9. Sekarang munculkan swatches, berfungsi sebagai tempat list warna yang akan kita ramu. Ibarat melukis, color mixer adalah cat yang masih berada di botol, sedangkan swatches adalah palet tempat kita meletakkan warna2 yang telah dicampur. Pilih menu Window > Swatches

  10. Setelah swatches muncul, kita mulai memasukkan warna2 yang telah dicampur, caranya drag kursor mouse pada warna yang telah dicampur di Color Mixer ke Swatches. Untuk panduan jenis warna yang akan dipakai bisa dilihat pada file pixel aslinya. Swatches akan berisi list2 warna yang akan kita pakai

  11. Cara mewarnai, perhatikan panel pada swatches (lihat tanda panah pada gambar)panah merah yang menunjuk ke simbol X itu menandakan isi warna pada bagian dalam objek (fill). Panah biru yang menunjuk simbol / itu menandakan warna pada line/garis objek. Panah kuning yang menunjuk simbol itu adalah menandakan warna gabungan isi (fill) dan garis (line) objek. Jika kita ingin memberi warna pada isi /bagian dalam objek saja, maka klik tanda X pilih warna yang dipilih, sedangkan pada bagian garis/line diberikan warna None (kosong,/tidak ada warna). Tips, untuk menjiplak Foto menjadi vector, setiap line pada objek dibuat None.
  12. Mulai memberikan warna satu persatu pada setiap objek path. Usahakan semirip mungkin dengan foto aslinya. Untuk membuat efek bisa saja memasukkan unsur gradasi (akan dibahas kemudian, untuk sementara bahasan cukup pada penggunaan warna2 dasar /fill basic)
  13. Setelah selesai seluruh bagian diberi warna, Jangan lupa di-group agar tidak berantakan pada saat digeser atau diubah ukurannya (caranya pilih menu Modify >Group) . Lalu hapus file pixel dari lembar kerja Free Hand dengan menekan delete pada keyboard, maka hasil jiplakan dengan cara manual siap dikreasikan dengan unsur vector lain. Selamat Mencoba

Kamis, 05 Maret 2009

REFERENSI KOMUNIKASI (PERIKLANAN)

Membuat Tracing Vector dengan Free Hand MX
(Budi Hartanto - Iklan 06)
Menguasai teknik membuat image pixel menjadi vector dengan detail dan tingkat kemiripan yang serupa merupakan salah satu keahlian tertinggi dalam dunia desain grafis. Biasanya ilustrasi vector banyak digunakan pada media massa cetak sebagai pengganti ilustrasi manual namun tetap terlihat seperti foto (saya lebih suka menyebut ilustrasi vektor ini sebagai bentuk ilustrasi digital), ataupun dikreasikan lagi agar menjadi memiliki nilai estetika yang lebih lagi (misal untuk memperbaiki kualitas foto yang kurang baik, infografis, karikatur, lukisan, hingga animasi dsb).
Contoh :

Atau

Ada dua cara dalam membuat ilustrasi vektor. Yang pertama adalah teknik tracing (menjiplak) langsung, cara ini paling mudah dan dapat menjadi solusi dalam mengerjakan tugas desain grafis yang baru saja diberikan dosen (untuk melihat panduan gambar untuk ukuran lebih besar dan detail silahkan klik pada gambar yang bersangkutan)

  1. Buang background foto dengan me nggunakan photoshop (cara menghilangkan background dapat dilihat pada postingan sebelumnya atau klik disini)
  2. Dari image awal yang seperti pada gambar di atas, setelah dihilangkan backgroundnya maka hasilnya seperti di bawah ini.

  3. Setelah background dihilangkan simpan file dalam format JPEG. Caranya Pilih Menu File >Save As> lalu beri nama file dan format file (lihat gambar) dan klik save lalu ok.


  4. Setelah itu buka program Macromedia Free Hand (kebetulan saya menggunakan Free Hand MX) Pilih menu File > New sebagai dokumen baru


  5. Setelah dokumen baru terbuka, kita setting ukuran dokumen (hal ini juga berguna pada saat akan mengeprint untuk memilih jenis ukuran kertas) pilih menu window > document


  6. Maka akan muncul menu Properties. Dalam menu itu kita pilih ukuran kertas adalah A4 (untuk langkah 4 dan 5 bisa dilewatkan saja, bisa langsung ke langkah 6)



  7. Setelah ukuran kertas dipilih. Lalu dokumen image JPEG yang telah kita hilangkan backgroundnya kita impor ke dalam Free Hand, caranya pilih menu File > import



  8. File image JPEG yang telah kita hilangkan backgroundnya pun muncul di lembar kerja Free Hand dan siap kita tracing



  9. Pilih trace-tool pada menu tools (lihat gambar) berupa simbol tongkat ajaib


  10. Setelah kursor trace aktif arahkan kursor dari ujung kiri atas image ke sudut kanan bawah (lihat gambar, mouse di-drag dari sudut x berwarna merah ke sudut x berwarna biru) ini bertujuan memilih area seleksi yang akan ditracing


  11. Tunggu beberapa saat, lalu akan muncul hasil tracing berupa kumpulan2 path warna yang masih aktif (ditandai dengan adanya titik2 biru)


  12. Biarkan kondisi kumpulan path warna tersebut dalam keadaan aktif lalu pilih menu modify lalu klik group. Hal ini berguna agar kumpulan path tadi menjadi satu group yang tidak terpisah sehingga tidak berantakan ketika akan dipindah2kan ataupun diperbesar/diperkecil


  13. Setelah itu pilih arrow tool untuk mengembalikan kondisi kursor seperti biasa


  14. Setelah itu geser perlahan2 hasil tracing yang sudah digroup tadi (dalam contoh pada gambar saya menggesernya ke arah kanan), hal ini dilakukan untuk memisahkan hasil tracing berupa vektor dengan image asli yang berupa pixel document JPEG


  15. Setelah terlihat perbedaannya maka gambar yang berada di sebelah kiri dan tampak ditimpa oleh gambar lain, itu adalah image asli yang berupa pixel, sedangkan gambar yang paling atas adalah sudah dalam bentuk tracing vektor, klik panah mouse pada gambar yang tertimpa

  16. Lalu hapus image JPEG itu dengan menekan tombol Delete pada keyboard, hasilnya sekarang dokumen Free Hand sudah berupa vektor dan siap dikreasikan dengan bentuk2 vektor lain selamat mencoba.

Model : Tya, Valentino Rossi (sumber blog penulis : http://budzaemon.blogspot.com)

Sabtu, 03 Januari 2009

REFERENSI KOMUNIKASI

Menghilangkan Background dengan Photoshop

(Budi Hartanto - Iklan 06)

Banyak desainer grafis mengatakan bahwa photoshop adalah software ‘sakti’ karena dengan menguasainya semua imajinasi visual yang ada di benak kita bisa menjadi ‘kenyataan’ berwujud produk grafis. Di sini saya akan berbagi materi-materi dasar photoshop yang akan berguna khususnya pada jurusan jurnalistik dan periklanan, setidaknya materi ini bisa diaplikasi untuk mengedit foto anda sendiri dalam friendster atau facebook sehingga tidak lagi tampil standar :-P

Dalam materi ini saya mengajarkan cara menghilangkan background dengan menggunakan pen tool, memang banyak cara lain, tapi cara ini merupakan cara yang paling banyak digunakan secara standar industri media. Menggunakan pen tool akan menghasilkan seleksi image yang lebih rapi, detail serta cepat (seperti menggunting foto secara manual). Pen tool dipilih karena sifatnya yang fleksibel, seolah-olah kita benar-benar menggunakan pen (pena) untuk membuat batas-batas pada image.

Saya menggunakan photoshop 7 (karena ini materi dasar maka cara ini bisa diaplikasi pada semua photoshop seri lama dan terbaru) dan untuk lebih jelasnya sebaiknya paduan gambar di klik agar tampilan 100 persen, serta perhatikan tanda lingkaran merah dan panah merah sebagai petunjuk

Langkah 1

Buka file yang akan dihilangkan backgroudnya, sebagai proses belajar sebaiknya pilih image yang beresolusi besar dan tidak rumit (hindari dulu mencoba menghilangkan background dengan objek rambut di kepala). Biasanya file berformat JPEG yang tidak memiliki layer

Langkah 2

Aktifkan layer image dengan mengklik dua kali pada layer background (lihat gambar yang diberi tanda panah merah) jika sudah diklik maka akan tampak menu baru sebagai tanda layer akan aktif, silahkan beri nama layer tersebut (untuk materi kali ini saya sengaja membiarkan nama layernya tetap sebagai “Layer 0”) jika sudah klik OK



Langkah 3

Lalu pilih pen tool di sisi kiri monitor (lihat gambar)


Langkah 4

Mulai memberi titik-titik batas yang akan diseleksi, mungkin akan terasa sulit memberi titik-titik batas dengan gerakan mouse dan memainkan kurva, tapi dengan seringnya berlatih akan terbiasa bahkan terasa mudah . Jangan lupa untuk memudahkan proses seleksi, pada panel layer fill diubah menjadi 0 untuk menghindari munculnya fill warna pada batas-batas seleksi pen tool (lihat gambar).Ini adalah proses paling lama dan membutuhkan ketelitian serta kejelian rasa seni.

Langkah 5

Teruskan membuat titik-titik batas seleksi hingga akhirnya batas tersebut tertutup dengan mempertemukan titik akhir dengan titik awal seleksi. Wilayah yang tertutup batas adalah wilayah yang telah diseleksi

Langkah 6

Setelah tertutup arahkan mouse ke panel layer dan klik vector mask thumbnail, biasanya ditandai dengan tulisan “Shape 1” (jika pada file belum ada shape yang lain).Lihat gambar

Langkah 7

Klik Paths pada panel

Langkah 8

Klik tombol bundar dengan logo segitiga di sudut kanan panel paths hingga keluar menu baru dan pilih “make selection” (lihat gambar)

Langkah 9

Setelah klik make selection maka akan muncul menu baru di tengah-tengah monitor yang menandakan seleksi akan segera aktif. Ada beberapa pilihan untuk menyeting seleksi tapi untuk permulaan saya hanya akan mengajarkan penggunaan setingan feather radius yang menggunakan satuan pixels (yang lainnya biarkan seperti semula, jangan diklik).
Feather radius berfungsi untuk menyamarkan tepian sisi seleksi, gunanya jika gambar dipotong, maka hasil potongan gambar di tepi-tepinya tidak terlihat terlalu kasar melainkan tampak samar di sepanjang sisinya. Semakin besar angka feather radius yang dimasukkan maka semakin samar sisi gambar tapi ingat, jangan memberikan angka yang terlalu besar juga, sesuaikan dengan kebutuhan, karena jika angka yang dibuat sangat besar maka hasil menghaluskan sisi luar gambar akan semakin ‘memakan’ gambar tersebut ke sisi dalam, akibatnya gambar malah menjadi pudar. Jika sudah maka klik OK

Langkah 10

Jika sudah di klik oke maka bagian yang terseleksi akan tampak dibatasi oleh garis putus-putus yang berkedip-kedip, ini menandakan bagian yang diseleksi siap untuk diedit.

Langkah 11

Lalu klik lagi panel layer untuk memilih layer yang akan diedit

Langkah 12

Setelah panel layer terbuka kembali maka klik “Layer 0” (layer yang akan dihilangkan backgroundnya) agar aktif

Langkah 13

Arahkan kursor mouse ke menu bagian atas dan buka menu “Select” dan pilih “Inverse”. hal ini untuk membalik posisi seleksi, karena seleksi yang kita buat di awal adalah justru bagian yang bukan akan dihilangkan, sehingga untuk membalik keadaan perlu di-inverse agar seleksi yang aktif adalah bagian background
(lihat gambar)

Langkah 14

Setelah inverse, maka tekan tombol delete di keyboard untuk menghapus background, maka hasilnya akan seperti pada gambar, background akan hilang dan siap digantikan dengan background lain atau dikreasikan dengan imajinasi kita.
Langkah 15

Selebihnya silahkan berkreasi dengan image yang sudah dihilangkan backgroundnya. Ingat dalam memasukkan background baru posisi layer harus di bawah layer yang sudah dihilangkan backgroundnya (dalam materi latihan ini layer yang dihilangkan backgroundnya adalah bernama “Layer 0”, maka letakkan background baru di bawah posisi “Layer 0” pada menu panel layer) Selamat Mencoba!!!


Model foto : Uyunk & Atta (PR 06)
Kunjungi Blog penulis di http://budzaemon.blogspot.com/